22.1.18

Kisah Bon Jovi Tahun 2000-an

Setelah 3 tahun vakum sejak 1997, Bon Jovi kembali pada tahun 2000 dengan album Crush. Album ini meledak di seluruh dunia dengan hitsnya yaitu It's My Life, Thank You For Loving Me,Next 100 Years,One Wild Night,Just Older. Album ini terjual 15 juta keping di seluruh dunia dan meraih peringkat tangga album teratas di Inggris. Tahun 2002, Bon Jovi merilis album Bounce yang berhasil mempopulerkan hits Everyday, Misunderstood, dan All About Lovin' You. Album ini nuansa rocknya tidak terlalu pelan, juga tidak terlalu keras. Pada November 2003, Bon Jovi merilis album This Left Feels Right. Materinya adalah lagu-lagu lama yang diaransemen ulang dari tahun 1984-2002. Pada September 2005, mereka merilis album Have A Nice Day. Hitsnya adalah Have A Nice Day, Last Cigarette, I Want To Be Loved, Welcome To Wherever You Are, I Am, dan Who Says You Can't Go Home. Pada pekan pertama, album Have A Nice Day terjual sebanyak 202 ribu keping. Lagu Who Says You Can't Go Home meraih penghargaan Grammy, yaitu "The Best Country Collaboration With Vocal". Bon Jovi kembali membuat album terbaru pada tahun 2007, yang berjudul Lost Highway. Hitsnya adalah (You Want To) Make A Memory. Walaupun enak didengar, hanya satu lagu yang melodinya kuat, yaitu Til We Ain't Strangers Anymore. Lagu lainnya berunsur rock yang ditambah dengan musik country  di sana-sini. Nuansa rock dalam album ini serba tanggung, karena tidak terlalu keras, juga tidak terlalu pelan. Dalam album ini, Bon Jovi berkolaborasi dengan 2 musisi country, yaitu Big & Rich dan Le-Ann Rimes. Album ini mencatat prestasi penjualan album Bon Jovi terbanyak dalam sepekan yang berjumlah 292 ribu.

Jon Bon Jovi Berikan Tiket Gratis Suporter Miskin
Inilah cara Jon Bon Jovi menunjukkan kecintaannya Melbourne Heart FC. Bintang musik cadas asal Amerika Serikat itu akan mendonasikan tiket musiman kepada suporter kurang mampu untuk menyaksikan laga klub asal Australia tersebut.

Dalam situsnya, Heart menyebutkan bahwa jon Bon Jovi merupakan orang pertama dari luar Australia yang memiliki tiket untuk pertandingan Heart di A-League Australia. Penyanyi tembang Living on a Prayer itu telah membeli empat tiket musiman dan akan didonasikan kepada suporter yang "secara finansial tidak mampu" untuk menyaksikan pertandingan Heart di stadion secara langsung.

"Aku ingin meluapkan isi hatiku dengan melakukan apa pun, jadi mendukung Melbourne Heart FC benar-benar murni keinginanku, tapi aku ingin bisa sedikit berbagi perasaan tersebut... terutama dengan penggemar Heart yang mungkin memiliki hati, tapi tidak punya kesempatan menunjukkan dukungan mereka," kata Jon Bon Jovi di situs resmi Heart.

Heart akan melakoni laga debutnya di A-League. Klub yang baru berdiri dua tahun lalu itu akan menggelar 15 laga tandang di Stadion AAMI Park.

Jon Bon Jovi sebelumnya pernah menjadi salah satu pemilik klub American football Philadelphia Soul. Ia dan grup musiknya akan tampil di Australia pada Desember 2010.

Jon Pernah Cedera
Jon pernah cedera di otot betisnya. Tapi hal itu tidak menghentikan penampilannya dalam konser yang berlangsung di kota kelahirannya.
“Mendekati akhir penampilannya dalam konser 2,5 jam di New Meadowlands Stadium Jumat 9 Juli 2010, Jon Bon Jovi mengalami cedera di otot betisnya,” ujar juru bicara Bon Jovi seperti dinukil dari ShowbizSpy, baru-baru ini.

Jon hanya mengalami cedera ringan saja dan masih bisa menuntaskan konser dengan lagu andalan 'Living On a Prayer'. “Konser berakhir tengah malam dan kapasitas penonton malam itu sangat padat. Sehingga Jon harus dibantu saat turun panggung,” imbuhnya.

Cedera tersebut tidak akan menghalangi penampilan Bon Jovi selanjutnya. “Mereka masih ada jadwal tampil lagi beberapa pekan ke depan selama musim panas ini,” pungkasnya.

Pada 2010 ini, Bon Jovi kembali merilis dua single dari album, yakni 'Superman Tonight' dan 'When We were Beautiful'.

silverdome today
international news today in english headlines
friendly match 2018 brazil vs argentina
2018 fifa world cup qualification conmebol
south america world cup qualifying 2018 broadcast

Profil Gitaris - Steve Vai

Steve Vai lahir di Carle Place, New York, 6 Juni 1960, ia adalah gitaris, penulis lagu, penyanyi dan produser yang berasal dari Amerika Serikat.
Permainannya mulai dari blues, jazz, rock sampai klasik dan ethnic music. Permainan gitarnya pun tidak terbatas pada komunitas gitar saja tetapi juga bagi orang-orang awam yang tidak mendalami gitar.

Pada umur 6 tahun, Steve mulai belajar piano. Pada umur 10 tahun, Steve mulai belajar bermain akordeon. Pada umur 13 tahun barulah Steve mulai mendalami gitar dan sejak saat itu lahirlah seorang dewa gitar yang baru.

Steve Vai mengawali kariernya dengan album debutnya Flex-Able Leftovers pada tahun 1984. Pada tahun 1990, Steve merilis album keduanya yang berjudul Passion and Warfare. Album ini mendapat pengakuan internasional dan Steve memenangkan polling pembaca majalah Guitar Player dalam 4 kategori yang berbeda. Album Steve yang ketiga berjudul Sex & Religion dirilis tahun 1993 dan album keempatnya Alien Love Secrets dirilis tahun 1995. Pada tahun 1996 album kelima Steve Fire Garden dirilis.

Tahun 1999, Steve meluncurkan album keenamnya yang berjudul Ultra Zone. Dalam album ini Steve lebih banyak memfokuskan dirinya dalam komposisi lagu dan bereksperimen dengan gitarnya. Tahun 2001 album The Seventh Song dirilis dan album ini berisi lagu-lagu slow/ballad yang pernah dirilis Steve dengan ditambah beberapa lagu baru. Dan di tahun 2001 Alive in an Ultra World pun dirilis.

Steve Vai juga pernah memproduksi 2 album Natal yang berjudul Merry Axemas Vol.1 dan Merry Axemas Vol.2, juga konser G3 bersama Joe Satriani dan Eric Johnson/Kenny Wayne Shepherd dan terakhir John Petrucci turut juga bergabung dalam G3.

Belakangan ini Steve Vai lebih memfokuskan diri bereksperimen pada permainan gitarnya dan sekarang ini band Steve Vai ditambah seorang pemain bass yang sudah tidak asing lagi buat fans-fans rock tahun 80-an, Billy Sheehan.

GALERI FOTO STEVE VAI

ALBUM-ALBUM STEVE VAI
silverdome today
international news today in english headlines
friendly match 2018 brazil vs argentina
2018 fifa world cup qualification conmebol
south america world cup qualifying 2018 broadcast

Biografi Musisi - Teddy Sujaya

Teddy Sujaya (lahir di Jakarta tahun 1954) adalah seorang drummer rock Indonesia, merupakan mantan drummer band rock legendaris Indonesia, God Bless.

Teddy mulai bermain drum sejak usia 10 tahun. Dari mulai band Venus, Etika Nada, Flotilla (band Angkatan Laut), lalu sempat masuk Bharata Band sebelum ditarik Ian Antono ke band Bentoel (Malang). Tahun 1975, Teddy ganti mengajak Ian Antono masuk God Bless.

Teddy turut membantu God Bless dalam pembuatan album-album berikut:

1. God Bless (1975)
2. Cermin (1980)
3. Semut Hitam (1988)
4. Raksasa (1989)
5. Apa Kabar (1997)

Bersama God Bless, mereka berhasil menelurkan lagu-lagu rock yang tetap dikenang sampai saat ini seperti Semut Hitam, Kehidupan, Rumah Kita, Musisi, Bla..Bla..Bla.., dan Huma di Atas Bukit. Permainan drumnya yang dinamis bersama God Bless pada album Cermin dan khususnya pada lagu Musisi mungkin merupakan atraksi drum rekaman rock terbaik di Indonesia sampai saat ini.

Selain mahir bermain drum, Teddy juga seorang penulis lagu yang andal. Sebagai penulis lagu, Teddy Sujaya pertama menyumbang ide dalam salah satu bagian lagu Musisi (God Bless - Cermin), lalu dilanjutkan dengan satu lagu Trauma di album Semut Hitam dan lagu Raksasa di album Raksasa. Lagu terakhir yang diciptakannya bersama God Bless adalah Srigala Jalanan (di album Apa Kabar?) yang awalnya didapat saat berjam session bersama Eet Syahranie.

Selain mencipta lagu untuk God Bless, Teddy Sujaya juga banyak menyumbang lagu untuk artis lain. Beberapa diantaranya jadi hit besar: Bis Kota, Mimpi, Tua Tua Keladi, Gaya Remaja. Belum lama ini, Mimpi dan Tua Tua Keladi bahkan dirilis ulang dengan aransemen baru.

Di antara masa-masa senggang bersama God Bless, Teddy sempat mengisi drum untuk Duo Kribo, Jurang Pemisah (Jockie Surjoprajogo), Lagu Untukmu (Donny Fattah), membentuk trio TAG (Teddy, Arthur, Gideon), mencipta lagu serta menangani solo album Ahmad Albar dan Anggun C. Sasmi.

Beberapa lagu ciptaan Teddy adalah:

1. Ahmad Albar - Bis Kota (Teddy Sujaya - Tantowi)
2. Ahmad Albar - Pengangguran (Teddy Sujaya - Tantowi)
3. Anggun C. Sasmi - Mimpi (Teddy S - Pamungkas NM)
4. Anggun C. Sasmi - Tua Tua Keladi (Teddy S - Pamungkas NM)
5. Anggun C. Sasmi - Gaya Remaja (Teddy S - Mauli G - Narashima)
6. Kathy and The Galatians - Cinta Setengah Mati (Teddy S - Herijal)
7. Kathy and The Galatians - Raja Bego (Teddy S - Herijal)

Seiring dengan bertambahnya usia, pada tahun 2001 Teddy Sudjaya menyatakan hengkang dari God Bless dan posisinya sempat diisi Gilang Ramadhan, yang kemudian diganti lagi oleh Yaya Moektio pada 2007.

Orang lebih mengenal Teddy Sujaya sebagai drummer God Bless, padahal sejak awal 1990-an, ia sudah mulai menjajaki karier sebagai produser. Sekarang Teddy Sujaya lebih banyak aktif sebagai produser, diantaranya menangani band Lentik (salah satu asuhan label Nagaswara) dan menangani serta mencipta lagu untuk band putrinya, Kathy and The Galatians yang akan meluncurkan album keduanya.

Sudah 35 tahun berkarier di dunia musik, ia mempersembahkan konser tunggal di Jakarta pada 19 Mei 2010.

Tajuk konsernya adalah "Konser 35 Tahun Karier Perjalanan Teddy Sujaya".
Konser yang digelar secara eksklusif ini  memboyong beberapa artis rock, seperti Andy "/Rif", Eet Syahrani, dan penyanyi rock pendatang baru Ratinala.

"Dalam kesempatan itu, saya juga memperkenalkan band baru saya yang bernama Teddy Sujaya Project," ujarnya.
"Semua ini didorong oleh keinginan kuat saya untuk terus bermain musik hingga akhir hayat," tambah Teddy.

Eet Syahrani yang juga pernah menjadi gitaris God Bless ini sangat salut kepada mantan drummer God Bless yang masih mampu menunjukkan kemampuannya itu. "Semangat beliau masih ada, kenapa enggak? Beliau dengan TSP-nya bisa memainkan karya-karya dia di luar God Bless," kata Eet.

Lain Eet lain pula Andi Rif soal kekagumannya terhadap Teddy. Andi yang didaulat untuk membawakan beberapa lagu dari ciptaan Teddy ini mengatakan kalau Teddy mempunyai kharisma rock star. "Bagi saya dia kharisma rock star, dia itu yang mau saya ambil dalam bermusik, semangat dia jadi cerminan saya dalam bermusik," ungkap pentolan band Rif ini.

Pria yang kini berusia 56 tahun ini masih terlihat bugar dan segar, pasalnya Teddy pandai menjaga kekuatan dan kemampuan dengan tidak merokok. "Masih bisalah, karena saya bisa menjaga kekuatan dan kemampuan kita seperti tidak merokok lagi. Tapi saya masih berasa oke-oke saja. Apalagi saya bareng yang muda-muda jadi ikutan energik juga," ucap pencipta hits lagu Mimpi yang ditenarkan oleh Anggun C Sasmi ini.

Dan meskipun sekarang ini Teddy sudah mulai eksis lagi, namun tidak pernah terbesit di dirinya untuk menyaingi band se-legendaris God Bless. "Enggak lah, yang penting kita tetap sama-sama berkarya. Suatu saat mungkin saja Ahmad Albar bisa bantu-bantu di TSP (Teddy Sujaya Project) kalau mau," tambahnya.

"Sekarang jual fisik (kaset dan CD) susah. Sekarang trennya lebih ke RBT. Jadi, itu akan kita pertimbangkan. Tapi saya tetap bikin musik rock. Sekarang industrinya lebih maju dari musiknya. Jadi hanya mengejar laku atau tidak lakunya. Kalau cuma ikutin produser, saya enggak mau. Apa yang saya suka, ya itulah yang akan keluar," jelasnya.

Okelah kalau begitu Mas Teddy, digebuk lagi drumnya...
silverdome today
international news today in english headlines
friendly match 2018 brazil vs argentina
2018 fifa world cup qualification conmebol
south america world cup qualifying 2018 broadcast

Profil Musisi - Tohpati


Tohpati Ario Hutomo (lahir di Jakarta, 25 Juli 1971) adalah seorang gitaris dan penulis lagu Indonesia. Tohpati merupakan salah satu gitaris jazz yang terkenal. Hal tersebut dikarenakan seringnya ia tampil di TV bersama penyanyi-penyanyi pop seperti Krisdayanti, Glenn Fredly, Rossa, Chrisye, dan lain-lain. Banyak karya-karyanya memadukan elemen kebudayaan tradisional sejalan dengan usahanya untuk memadukan unsur modern dan unsur tradisional Indonesia dalam musik-musiknya. Aliran musik jazz-nya dipengaruhi oleh banyak gitaris jazz dunia, tapi yang paling besar dalah pengaruh dari gaya permainan Pat Metheny.

Sejak masih remaja ia sudah sering tampil di panggung-panggung Jakarta. Bahkan ia pernah menyabet gelar Gitaris Terbaik pada Festival Band se-DKI pada saat usianya baru 14 tahun. Kemudian tahun 1989 juga terpilih menjadi Gitaris Terbaik festival Band se-Jawa. Di tahun itu juga ia menyabet gelar Gitaris Terbaik pada Yamaha Band Explosion tingkat Nasional.

Tahun 1993, ia kemudian tergabung dalam grup "Simak Dialog" yang beranggotakan Riza Arshad, Arie Ayunir, dan Indro. Nama yang disebutkan terakhir ini kemudian menjadi orang yang paling sering bermain bersama Tohpati dimana-mana. Bersama "Simak Dialog" Tohpati telah merilis tiga album : Lukisan, Baur, dan Trance / Mission.

Tahun 1998, Tohpati merilis album solo perdananya. Dalam album ini ia menampilkan beberapa penyanyi seperti Shakila dan Glenn Fredly yang beberapa waktu sebelumnya baru mulai meroket namanya bersama grup "Funk Section". Untuk mempopulerkan albumnya, Tohpati merilis video clip lagu berjudul Lukisan Pagi yang dibawakan bersama Shakila. Lagu tersebut sangat populer dan menjadi jawara di beberapa tangga lagu di tanah air.

Album keduanya, Serampang Samba, lebih banyak menyajikan hits-hits instrumental. Berbeda dengan album sebelumnya, kali ini Tohpati hanya merilis video clip lagu Jejak Langkah Yang Kau Tinggal yang dibawakan bersama Glenn Fredly. Serampang Samba juga memuat lebih banyak musik-musik tradisional Indonesia dengan saratnya permainan gitar akustik dan elemen-elemen musik Bali. Bisa dibilang album ini lebih idealis dari album sebelumnya.

Tohpati Ethnomission
Tohpati Ethnomission sudah merilis satu album, yaitu Save the Planet. Ethnomission memadukan rock dengan musik etnik dan fusion jazz. Grup ini juga berpersonil Indro Hardjodikoro (bas), Endang Ramdhan (kendang), Diki Suwarjiki (suling tradisional), dan Demas Narawangsa (drum). Menurut Tohpati, Ethnomission merupakan proyek pribadi yang lepas dari industri rekaman. Di grup ini, Tohpati mengaku mampu bermain lebih lepas dan lebih mampu berkreasi. “Ini proyek idealis,” katanya.

Sepintas embel-embel “mission” segera berasosiasi dengan “Trance/Mission”, judul album simakDialog (2002) di peralihan adopsi penuh kendang Sunda pada seksi ritme. Tohpati yang termasuk pentolannya menghadirkan corak peralihan tersebut pada album solo terbarunya, lewat permainan kendang Endang Ramdan komplementer terhadap tabuh drum Demas Narawangsa. Begitu didengarkan, warna distorsi, manipulasi pedal ekspresi, hingga aksen lengking yang serupa pun mengkonfirmasi jalinan tersebut. Belum lagi gaya rekaman live utuh yang nyaris menihilkan overdub jika mengingat tiga album sebelumnya, yang lebih memiliki polesan manis, yaitu saat masih di bawah label Sony Music. Pembuka “Etno Funk” juga menyimbolkan preferensi gitaris papan atas ini pada kreasi bernunsa tradisi sekaligus kocokan (strumming) funk yang sarat syncopated rhythm. Proporsi yang sudah mulai dibukukan sejak rilis “Tohpati” (1998) itu perlahan condong ke musik etnik.

Berbicara proporsi pada album simpul dua dunia Tohpati, “East West” adalah porsi fusion kontemporer yang paling gamblang. Tidak mengejutkan kalau tenorist Bob Mintzer muncul dalam unison melodi intervalik yang seolah membalas “Yahoo” ketika dimainkan Yellowjackets dengan bintang tamu Tohpati pada Jak Jazz Festival 2008. Mintzer tanpa kesulitan berarti menemukan ide pembuka yang menawan untuk solo saksofonnya. Fusi sejenis disuntikkan bius groove yang membuka “Rain Forest”dalam atmosfer jam band, walaupun ternyata berakhir dalam tema progresif.

Di sisi lain terdapat pula tutur cerita “Bedhaya Ketawang” yang menonjolkan suling Diki Suwarjiki dalam balada kontemplatif. “New Inspiration” menampilkan fitur bassist Indro Hardjodikoro sebagai versi baru dari album “It’s Time” (2008) yang memuatnya sebagai medley “Kata Hati (Inspiration)” pada bagian improvisasi duet drum-gitar. Aksi kendang-drum diberi slot pada “Perang Tanding” yang mewujudkan salah satu babak pertunjukkan wayang, dengan “Gegunungan” di babak lainya bagi duet gitar (plus synth) dengan kendang. Apalagi yang lebih tepat mengakhiri guitar-vaganza selain sedikit sentuhan country twang/chicken pluck dalam keriangan “Pesta Rakyat”.

TAMPIL MEMUKAU

Tohpati Ethnomission tampil memukau di Bentara Budaya Jakarta, 22 April 2010 lalu. Permainan musik yang disajikan dalam konser tersebut merupakan  komposisi Instrumental kolaborasi seni musik tradisional dengan seni musik modern.

Tohpati, Indro Hardjodikoro (bas), Endang Ramdhan (kendang), Diki Suwarjiki (suling tradisional), dan Demas Narawangsa (drum) memang memiliki misi untk mengekspolrasi musik-musik etnik secara total “ Bagi saya musik tradisional Indonesia itu bagus-nagus, karena musik tak bias lepas dari keadaan sosial di sekitar kita” Kata Tohpati. Dalam pertunjukan sekitar dua jam tersebut Tohpati membawakan sembilan buah aransemen lagu daiantaranya Ethno Funk, Let the Bird Sing, Save the Planet, New Inspiration, Jangger, dan Bedaya Ketawang

Tohpati Ario Hutomo, mengatakan dalam kolaborasinya malam itu mereka berusaha menyatukan instrumen musik tradisional dengan modern. “Saya memilih suling dan kendang, karena kedua alat musik ini bisa berkolaborasi dengan musik yang saya mainkan” kata Tohpati.

Proses penyatuan kedua jenis musik itu sendiri, jelas Tohpati, memakan waktu cukup lama. Butuh penyeragaman nada antara suling, kendang serta alat musik lainnya. “Kita harus meramu nada-nada dari alat musik tersebut agar menghasilkan suatu musik yang berbeda dari yang lainnya” ungkap Tohpati

Tohpati berhasil membuat ratusan penonton yang memenuhi pelataran Bentara Budaya Jakarta terpukau. Antusias penonton begitu tinggi hingga pertunjukan berakhir. Bukannya membubarkan diri, mereka justru kompak berteriak meminta grup tersebut tampil lagi.

Teriakan penonton pun ditanggapi oleh Indro Hardjodikoro dengan permainan solo bass-nya dan permainan drum Demas Narawangsa yang begitu atraktif. Tohpati sendiri memainkan gitarnya dengan penjiwaan yang begitu mendalam. Pukulan kendang Endang Ramdhan yang ditingkahi gentakan drum Demas yang saling melengkapi pun mendapat sambutan yang begitu meriah dari para penonton yang hadir.

Tohpati berharap genre musik yang dibawakannya dapat diterima masyarakat. “Dengan adanya genre musik yang kami mainkan masyarakat akan lebih terbuka wawasannya, bahwa sebenarnya musik itu bukan yang itu-itu saja tapi sangat beragam bentuknya,”Ungkapnya.

silverdome today
international news today in english headlines
friendly match 2018 brazil vs argentina
2018 fifa world cup qualification conmebol
south america world cup qualifying 2018 broadcast

TODAY DIRECTORY © 2008 today directory.

TOPO